Aku termenung di depan
monitor laptop ini, untuk menanti sapaanmu dalam sepotong chatting yang telah
kita janjikan. Hampir 3 jam aku duduk manis di depan laptop hanya untuk
menunggu kau menyapaku
Melakukan hal yang sia-sia,
hanya karena aku mencintaimu
Hei sedang apa kau disana?
Sepertinya jarak terlalu kejam kepada kita ya? Memisahkan dua hati yang saling
mencintai. Tunggu dulu, 'saling' mencintai?. Iya menurutku, tapi aku tak tahu
denganmu.
Begitu banyak kerikil tajam
yang membuat hubungan kita tak semulus dulu. Ratusan bunga api pun rasanya
menyulut kita hingga bertengkar berlarut-larut. Tak dapat kupungkiri, hati ini
begitu sakit saat kuketahui kau berbohong terhadap apa yang kau beritakan.
Kau bilang merindukanku, tapi
nyatanya kau kencan dengan perempuan lain. Kau bilang ingin mengetahui kabarku
sesering mungkin, tapi kau malah sibuk membalas mention dari teman-teman
cewekmu. Aku selalu menunggu hingga larut malam melawan rasa kantuk hanya untuk
menunggu pesan dan telepon darimu. Namun, hasilnya tetap nihil. Aku seperti tak
berarti di matamu. Kadang aku berpikir, apakah kau masih setia denganku sesuai
dengan yang kau janjikan dulu?
Jawabnya, entahlah. Hanya
Tuhan dan kau yang benar-benar tahu.
Tak kusangka, mencinta dalam
jarak amat sangat sulit. Kita tak benar-benar tahu apa yang dia lakukan disana.
Aku merindukan sosoknya, ingin sekali melihat wajahnya dari dekat, tidak hanya
melalui skype.
Apakah kau masih merindukanku
sayang? Apakah ada yang menggantikanku memberimu perhatian secara nyata? Atau
aku hanya sebagai 'pacar formalitas'?
Semoga kau tetap mencintaiku
sama seperti dulu ketika kita masih bertatap mata secara langsung.
Tiara Windri Apriani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar