Sabtu, 30 Juni 2012

Bahaya Kembali Datang

Tugas Membuat Cerpen Bahasa Indonesia

Mawar putih itu masih setia berada diatas kepalaku. Aku pun masih mengenakan dress sederhana bermotif mawar berwarna gradasi pink. Rambut cokelatku yang berkilau masih tergerai seperti biasa. Kulitku putih langsat. Namaku Sheena, aku bukan murni seorang manusia, tetapi keturunan seorang Deena. Deena adalah peri yang sangat terkenal karena kecantikannya. Aku memakai cincin mawar putih peninggalan ibuku. Orang tuaku telah lama tiada sejak aku masih kecil.
            Aku hanya sebatang kara di pulau ini, aku tinggal di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kombinasi bambu dan daun rumbia. Aku memenuhi kebutuhan primerku dengan mencari tumbuhan yang aman untuk dimakan dan terkadang menangkap ikan di lautan. Teman-temanku disini adalah hewan-hewan yang ajaib menurutku. Ada Oxe rusa betina putih berkilau, Almora burung elang yang berwarna merah keemasan, Lexa unicorn berwarna pink muda, dan sebagainya. Tumbuh-tumbuhan di pulau ini jg beraneka ragam, dari yang aman sampai berbahaya.
***
            Keesokan harinya, aku terbangun dari tidur lelapku. Aku bergegas untuk mencari makanan bersama Lexa. Kami berkeliling pulau untuk mencari tumbuhan niddli, yaitu tanaman yang akarnya berbentuk mie yang ketika dicampur bersama air, maka akan menjadi mie goreng yang nikmat. Hari sudah beranjak siang, kami belum juga menemukannya. Lalu kami memutuskan untuk pergi ke bagian hutan terlarang. Terdengar suara-suara aneh seperti auman.
            “Lexa, aku mendengar auman dan hawa yang agak panas. Kamu ngerasainnya juga gak?” Tanyaku.
            “Iya Sheena, aku takut itu adalah makhluk aneh bin mengerikan yang ada disini.” Jawab Lexa.
            “Kita keluar dari sini aja yok. Aku takut banget, perasaanku gak enak.” Ajakku kepada Lexa.
            “Baiklah.” Ujar Lexa mantap.
            Kami pun bergegas meninggalkan kawasan hutan terlarang itu.
            Karena tidak mendapatkan apa yang kami inginkan, kami hanya mengambil ikan di pesisiran pantai dan dibakar. Lumayan, cukup untuk mengganjal perut hari itu.
***
            Siang ini aku ingin mencari bunga lili putih dan mawar ungu untuk menghiasi sudut kamarku. Aku berjalan sendirian tanpa ditemani sahabat-sahabatku. Lengkap sekali pulau ini, menyediakan seluruh yang kami butuhkan. Aku melintasi hutan terlarang lagi. Masih terdengar suara auman dan hawa yang membuat gerah.
            Daaaan, oh!! Rumput-rumput ilalang emas menjadi seperti arang. Hitam pekat dan hangus. Apa yang terjadi dengan bagian hutan ini? Apa karena aku terlalu lama menjadi fakir asmara? Apa karena Raditya Dika sering membuat penggalauan? Oh lupakan.
            Aku mulai berpikir apakah ada makhluk aneh dan mengerikan disini? Aku sungguh takut pake banget berpangkat-pangkat. Karena aku tidak menemukan bunga-buga cantik tersebut, aku memutuskan untuk ke tempat tinggal Almora di pohon pinus.
            Setibanya disana, aku bercerita dengan Almora tentang apa yang kulihat.
            “Al, kamu tahu tentang apa yang ada di hutan itu?” tanyaku.
            “Gak tau Sheen, soalnya gak pernah lewat situ. Males gila, aku udah capek-capek hair spa bulu-buluku setiap hari. Trus harus terbang gak penting gitu.” Jawab Almora dengan gaya khasnya.
            “Aaaaah tapi aku penasaran banget nih, ayolah temenin. Kalo gak kita ajak Oxe dan Lexa. Ntar ku traktir niddli lada hitam deh.”
            “Baiklah kalau begitu.” Ujar Almora mantap mendengar nama makanan maha lezat tersebut.
            “Bentar ya aku telpon  Lexa dan Oxe dulu.” Inisiatifku.
            Kami janjian bertemu di simpang tak terhingga perbatasan hutan itu. Dengan mengumpulkan segenap keberanian jiwa raga, kami segera menelusuri hutan terlarang. Kami tiba di pertengahan hutan, mencekam sekali. Aku sampai beberapa kali berlindung di dekat Oxe.
            Udara semakin panas, rasanya gak gak gak kuat. Begitu banyak spekulasi yang ada di otakku. Sebenarnya ada apa di hutan ini. Dan kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi di hadapanku! Refleksi ibu ku muncul dihadapanku. Seketika dia berbicara denganku.
            “Sheena anakku, kamu akan menghadapi perjalanan yang membahayakan. Di hutan ini terdapat makhluk yang sangat berbahaya.” Kata wanita nan cantik ini.
            “Ada apa ibu?” jawabku.
            “Di hutan ini ada naga yang telah bangkit dari tempat kematiannya 50 tahun yang lalu. Dia akan menyerang siapa saja yang mengganggunya.”
            “Lalu apa yang harus kami lakukan bu?”
            “Kalian harus menemukan mahkota mawar kristal untuk mengembalikan negara tersebut ke tempat asalnya. Mahkota itu harus ditemukan segera nak, sebelum seisi pulau ini hangus. Dan jika kalian telah menemukannya, segera hadapi. Mawar yang melingkar di jari mu, berguna untuk melindungi kalian dari hembusan api yang dikeluarkann naga. Segera hadapi. Ibu percayakan kepadamu dan teman-temanmu. Semoga berhasil.” Ibu mengakhiri kalimatnya dan sosoknya menghilang.
            Oxe, Lexa, dan Almora tidak melihat sosok ibu ku. Mereka dari tadi hanya memperhatikanku.
            “Teman-teman, kita harus menemukan mahkota mawar kristal untuk mengembalikan naga yang ada di pusat hutan ini ke tempat asalnya.” Kataku memberi petunjuk.
            “Dimana kita harus mencarinya Sheena?” Tanya Oxe.
            “Akupun tak tahu Oxe. Mari kita lanjutkan perjalanan ke pusat hutan untuk menghadapi naga tersebut.” Ajakku.
            Kami pun melanjutkan perjalanan ke dalam hutan. Aku juga bingung memikirkan mahkoa Kristal itu. Semakin dekat ke pusat, hawa semakin panas. Tiba-tiba, ada seorang kurcaci mini yang hanya seukuran telapak tanganku sedang tersangkut di celah akar pohon. Aku dengan lincah membebaskan kurcaci itu. Lalu dia berterimakasi kepada kami.
            “Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian. Kalau tidak ada kalian mungkin aku tidak dapat terbebas dari sini.” Ucap kurcaci.
            “Iya sama-sama.” Kami menjawab serentak.
            “Mawar yang ada diatas kepalamu cantik sekali peri. Aku berharap mahkota itu dapat melindungimu serta mereka dari kalian.” Harap sang kurcaci.
            Mereka melanjutkan perjalanan dan sudah tinggal beberapa meter lagi mereka sampai di tempat naga tersebut. Udara panas semakin merajalela. Aku mencoba mengarahkan cincin mawarku kearah kami. Dengan ajaib, kami diselubungi semacam kabut bening yang menyejukkan. Kami maju perlahan dengan berani. Tanduk unicorn yang dimiliki Lexa mengeluarkan sinar yang mampu meredam suara naga tersebut. Almora terbang untuk mencari titik kelemahan naga itu. Oxe dengn kekuatannya mampu mengeluarkan air untuk memadamkan api.
            Secara mengejutkan, mahkota mawar putih yang ada di kepalaku mengeluarkan cahaya yang terang menderang. Oh apa yang terjadi? Naga di hadapanku semakin meronta-ronta dan lahan yang hangus semakin banyak. Apa yang harus aku lakukan? Aku merasakan mahkotaku sedikit lebih berat, mahkota mawar ku berubah menjadi kristal!!! Apakah ini doa dari kurcaci tadi? Aku sangat berterima kasih kepadanya.
            Dengan sigap aku melepaskan mahkota itu. Aku arahkan mahkota tersebut ke arah naga api. Mahkota mawar kristal  mengeluarkan cahaya hijau yang sangat dahsyat, sementara semua teman-temanku juga meluncurkan serangan membabi buta. Cahaya huijau tersebut semakin menguasai naga tersebut yang perlaha-lahan menjadi lemah, semakin lemah, lemah, dan lemah. Seketika itu naga langsung menghilang dari hadapan kami, kembali ke tempat yang ibuku sebutkan. Tempatnya yang abadi dan tidak akan pernah kembali ke pulau ini.
            Kami semua bersorak sorai gembira menyambut hal ini. Sungguh menyenangkan bisa menyelematkan seisi pulau ini dari makhluk berbahaya. Kami berharap naga ini tak akan pernah kembali. Tidak lupa juga kepada ibuku yang telah hadir memberikan petunjuk kepada kami dan kurcaci kecil itu.

Tiara Windri Apriani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar