Tugas Membuat Cerpen Bahasa Indonesia
Mawar putih itu masih setia
berada diatas kepalaku. Aku pun masih mengenakan dress sederhana bermotif mawar berwarna gradasi pink. Rambut
cokelatku yang berkilau masih tergerai seperti biasa. Kulitku putih langsat.
Namaku Sheena, aku bukan murni seorang manusia, tetapi keturunan seorang Deena. Deena adalah peri yang sangat
terkenal karena kecantikannya. Aku memakai cincin mawar putih peninggalan
ibuku. Orang tuaku telah lama tiada sejak aku masih kecil.
Aku
hanya sebatang kara di pulau ini, aku tinggal di sebuah gubuk kecil yang
terbuat dari kombinasi bambu dan daun rumbia. Aku memenuhi kebutuhan primerku
dengan mencari tumbuhan yang aman untuk dimakan dan terkadang menangkap ikan di
lautan. Teman-temanku disini adalah hewan-hewan yang ajaib menurutku. Ada Oxe
rusa betina putih berkilau, Almora burung elang yang berwarna merah keemasan,
Lexa unicorn berwarna pink muda, dan sebagainya. Tumbuh-tumbuhan di pulau ini
jg beraneka ragam, dari yang aman sampai berbahaya.
***
Keesokan
harinya, aku terbangun dari tidur lelapku. Aku bergegas untuk mencari makanan
bersama Lexa. Kami berkeliling pulau untuk mencari tumbuhan niddli, yaitu
tanaman yang akarnya berbentuk mie yang ketika dicampur bersama air, maka akan
menjadi mie goreng yang nikmat. Hari sudah beranjak siang, kami belum juga
menemukannya. Lalu kami memutuskan untuk pergi ke bagian hutan terlarang.
Terdengar suara-suara aneh seperti auman.
“Lexa,
aku mendengar auman dan hawa yang agak panas. Kamu ngerasainnya juga gak?” Tanyaku.
“Iya
Sheena, aku takut itu adalah makhluk aneh bin mengerikan yang ada disini.”
Jawab Lexa.
“Kita
keluar dari sini aja yok. Aku takut banget, perasaanku gak enak.” Ajakku kepada
Lexa.
“Baiklah.”
Ujar Lexa mantap.
Kami
pun bergegas meninggalkan kawasan hutan terlarang itu.
Karena
tidak mendapatkan apa yang kami inginkan, kami hanya mengambil ikan di
pesisiran pantai dan dibakar. Lumayan, cukup untuk mengganjal perut hari itu.
***
Siang
ini aku ingin mencari bunga lili putih dan mawar ungu untuk menghiasi sudut
kamarku. Aku berjalan sendirian tanpa ditemani sahabat-sahabatku. Lengkap
sekali pulau ini, menyediakan seluruh yang kami butuhkan. Aku melintasi hutan
terlarang lagi. Masih terdengar suara auman dan hawa yang membuat gerah.
Daaaan,
oh!! Rumput-rumput ilalang emas menjadi seperti arang. Hitam pekat dan hangus.
Apa yang terjadi dengan bagian hutan ini? Apa karena aku terlalu lama menjadi
fakir asmara? Apa karena Raditya Dika sering membuat penggalauan? Oh lupakan.
Aku
mulai berpikir apakah ada makhluk aneh dan mengerikan disini? Aku sungguh takut
pake banget berpangkat-pangkat. Karena aku tidak menemukan bunga-buga cantik
tersebut, aku memutuskan untuk ke tempat tinggal Almora di pohon pinus.
Setibanya
disana, aku bercerita dengan Almora tentang apa yang kulihat.
“Al,
kamu tahu tentang apa yang ada di hutan itu?” tanyaku.
“Gak
tau Sheen, soalnya gak pernah lewat situ. Males gila, aku udah capek-capek hair
spa bulu-buluku setiap hari. Trus harus terbang gak penting gitu.” Jawab Almora
dengan gaya khasnya.
“Aaaaah
tapi aku penasaran banget nih, ayolah temenin. Kalo gak kita ajak Oxe dan Lexa.
Ntar ku traktir niddli lada hitam deh.”
“Baiklah
kalau begitu.” Ujar Almora mantap mendengar nama makanan maha lezat tersebut.
“Bentar
ya aku telpon Lexa dan Oxe dulu.”
Inisiatifku.
Kami
janjian bertemu di simpang tak terhingga perbatasan hutan itu. Dengan
mengumpulkan segenap keberanian jiwa raga, kami segera menelusuri hutan
terlarang. Kami tiba di pertengahan hutan, mencekam sekali. Aku sampai beberapa
kali berlindung di dekat Oxe.
Udara
semakin panas, rasanya gak gak gak kuat. Begitu banyak spekulasi yang ada di
otakku. Sebenarnya ada apa di hutan ini. Dan kemudian, sesuatu yang mengejutkan
terjadi di hadapanku! Refleksi ibu ku muncul dihadapanku. Seketika dia
berbicara denganku.
“Sheena
anakku, kamu akan menghadapi perjalanan yang membahayakan. Di hutan ini
terdapat makhluk yang sangat berbahaya.” Kata wanita nan cantik ini.
“Ada
apa ibu?” jawabku.
“Di
hutan ini ada naga yang telah bangkit dari tempat kematiannya 50 tahun yang
lalu. Dia akan menyerang siapa saja yang mengganggunya.”
“Lalu
apa yang harus kami lakukan bu?”
“Kalian
harus menemukan mahkota mawar kristal untuk mengembalikan negara tersebut ke
tempat asalnya. Mahkota itu harus ditemukan segera nak, sebelum seisi pulau ini
hangus. Dan jika kalian telah menemukannya, segera hadapi. Mawar yang melingkar
di jari mu, berguna untuk melindungi kalian dari hembusan api yang dikeluarkann
naga. Segera hadapi. Ibu percayakan kepadamu dan teman-temanmu. Semoga
berhasil.” Ibu mengakhiri kalimatnya dan sosoknya menghilang.
Oxe,
Lexa, dan Almora tidak melihat sosok ibu ku. Mereka dari tadi hanya
memperhatikanku.
“Teman-teman,
kita harus menemukan mahkota mawar kristal untuk mengembalikan naga yang ada di
pusat hutan ini ke tempat asalnya.” Kataku memberi petunjuk.
“Dimana
kita harus mencarinya Sheena?” Tanya Oxe.
“Akupun
tak tahu Oxe. Mari kita lanjutkan perjalanan ke pusat hutan untuk menghadapi
naga tersebut.” Ajakku.
Kami
pun melanjutkan perjalanan ke dalam hutan. Aku juga bingung memikirkan mahkoa
Kristal itu. Semakin dekat ke pusat, hawa semakin panas. Tiba-tiba, ada seorang
kurcaci mini yang hanya seukuran telapak tanganku sedang tersangkut di celah
akar pohon. Aku dengan lincah membebaskan kurcaci itu. Lalu dia berterimakasi
kepada kami.
“Aku
mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian. Kalau tidak ada kalian mungkin
aku tidak dapat terbebas dari sini.” Ucap kurcaci.
“Iya
sama-sama.” Kami menjawab serentak.
“Mawar
yang ada diatas kepalamu cantik sekali peri. Aku berharap mahkota itu dapat
melindungimu serta mereka dari kalian.” Harap sang kurcaci.
Mereka
melanjutkan perjalanan dan sudah tinggal beberapa meter lagi mereka sampai di
tempat naga tersebut. Udara panas semakin merajalela. Aku mencoba mengarahkan
cincin mawarku kearah kami. Dengan ajaib, kami diselubungi semacam kabut bening
yang menyejukkan. Kami maju perlahan dengan berani. Tanduk unicorn yang
dimiliki Lexa mengeluarkan sinar yang mampu meredam suara naga tersebut. Almora
terbang untuk mencari titik kelemahan naga itu. Oxe dengn kekuatannya mampu
mengeluarkan air untuk memadamkan api.
Secara
mengejutkan, mahkota mawar putih yang ada di kepalaku mengeluarkan cahaya yang
terang menderang. Oh apa yang terjadi? Naga di hadapanku semakin meronta-ronta
dan lahan yang hangus semakin banyak. Apa yang harus aku lakukan? Aku merasakan
mahkotaku sedikit lebih berat, mahkota mawar ku berubah menjadi kristal!!!
Apakah ini doa dari kurcaci tadi? Aku sangat berterima kasih kepadanya.
Dengan
sigap aku melepaskan mahkota itu. Aku arahkan mahkota tersebut ke arah naga
api. Mahkota mawar kristal mengeluarkan
cahaya hijau yang sangat dahsyat, sementara semua teman-temanku juga
meluncurkan serangan membabi buta. Cahaya huijau tersebut semakin menguasai
naga tersebut yang perlaha-lahan menjadi lemah, semakin lemah, lemah, dan
lemah. Seketika itu naga langsung menghilang dari hadapan kami, kembali ke
tempat yang ibuku sebutkan. Tempatnya yang abadi dan tidak akan pernah kembali
ke pulau ini.
Kami
semua bersorak sorai gembira menyambut hal ini. Sungguh menyenangkan bisa
menyelematkan seisi pulau ini dari makhluk berbahaya. Kami berharap naga ini
tak akan pernah kembali. Tidak lupa juga kepada ibuku yang telah hadir
memberikan petunjuk kepada kami dan kurcaci kecil itu.
Tiara Windri Apriani