Kini, aku telah menjadi bagian masa lalumu dan kaupun begitu. Aku tidak berhak lagi untuk memberikan perhatian secara intens kepadamu, mengingatkanmu untuk makan, beribadah dan belajar. Aku hanya mengamatimu dari jauh, memandang sosokmu dan tidak etis rasanya aku menegurmu seperti dulu. Untuk memberikan senyumpun aku begitu canggung..
Hanya beberapa hari setelah kita mengakhirinya, aku mengamati setiap tingkahmu yang tampak dihadapanku secara nyata maupun maya. Apakah telah menemukan penggantiku? hei! Berbicara tentang pengganti, aku sedikit terkejutkan dengan kabar bahwa kau sedang mendekati wanita lain. Dia tidak lain adalah orang yang aku kenal. Seketika aku menitikkan air mata, begitu cepat rasanya. Aku memang yang mengajakmu berbicara perihal aku ingin menjaga perasaan seseorang, dan kau yang melontarkan kata 'putus' itu.
Tapi, tidakkah kau memikirkanku juga? memikirkan perasaanku? aku tidak menyangka kalau kau setega ini. Membiarkan hatiku terluntang-lantung. Kau begitu perhatian kepadanya, setiap saat aku melihat aktivitas kalian di dunia maya. Kau bilang menyayangiku, tapi nyatanya?! Jika kau benar-benar mencintaiku, kejar aku! Kejar aku dan jelaskan bahwa hubungan kita akan bertahan baik-baik saja.Katakan bahwa kau memang benar mencintaiku. Aku ingin melihat usahamu, pengorbanan cinta yang selama ini kau umbar manis terhadapku. Ironis memang pada kenyataan kau mendekatinya, aku jadi tidak yakin akan ucapan yang kau berikan pada saat kita baru meresmikan hubungan 'pacaran'. Aku kira kau berbeda, tapi ternyata sama saja seperti mereka lelaki yang kukenal dulu.
Aku bersyukur Tuhan menunjukkan kenyataan ini sehingga aku tidak terjebak kedalam perangkap manis itu :)
Tiara Windri Apriani