Selasa, 03 Juli 2012

Mencinta Dalam Jarak


Aku termenung di depan monitor laptop ini, untuk menanti sapaanmu dalam sepotong chatting yang telah kita janjikan. Hampir 3 jam aku duduk manis di depan laptop hanya untuk menunggu kau menyapaku
Melakukan hal yang sia-sia, hanya karena aku mencintaimu

Hei sedang apa kau disana? Sepertinya jarak terlalu kejam kepada kita ya? Memisahkan dua hati yang saling mencintai. Tunggu dulu, 'saling' mencintai?. Iya menurutku, tapi aku tak tahu denganmu.

Begitu banyak kerikil tajam yang membuat hubungan kita tak semulus dulu. Ratusan bunga api pun rasanya menyulut kita hingga bertengkar berlarut-larut. Tak dapat kupungkiri, hati ini begitu sakit saat kuketahui kau berbohong terhadap apa yang kau beritakan.

Kau bilang merindukanku, tapi nyatanya kau kencan dengan perempuan lain. Kau bilang ingin mengetahui kabarku sesering mungkin, tapi kau malah sibuk membalas mention dari teman-teman cewekmu. Aku selalu menunggu hingga larut malam melawan rasa kantuk hanya untuk menunggu pesan dan telepon darimu. Namun, hasilnya tetap nihil. Aku seperti tak berarti di matamu. Kadang aku berpikir, apakah kau masih setia denganku sesuai dengan yang kau janjikan dulu?
Jawabnya, entahlah. Hanya Tuhan dan kau yang benar-benar tahu.

Tak kusangka, mencinta dalam jarak amat sangat sulit. Kita tak benar-benar tahu apa yang dia lakukan disana. Aku merindukan sosoknya, ingin sekali melihat wajahnya dari dekat, tidak hanya melalui skype.
Apakah kau masih merindukanku sayang? Apakah ada yang menggantikanku memberimu perhatian secara nyata? Atau aku hanya sebagai 'pacar formalitas'?
Semoga kau tetap mencintaiku sama seperti dulu ketika kita masih bertatap mata secara langsung.



Tiara Windri Apriani